Pizza Goreng, Kuliner Khas Bogor yang Kekinian

Bogorzone.com, Bogor – Pizza sudah sangat dikenal sebagai makanan lezat asal negara Itali. Bentuknya bulat pipih dan terbuat dari beraneka jenis bahan makanan, seperti daging, keju, mushroom (jamur), dan berbalut topping saus atau mayones.

Tapi di Bogor pizza ini menjadi kuliner jenis baru. Bentuknya bulat kecil seperti pastel dan panada dan bisa dinikmati instan setelah digoreng. Namanya pun pizza goreng. Pizza goreng ini dibuat oleh si empunya, Indo Saji (PT Indonesia Saji Nusantara).

Rasa dan bahannya juga sama seperti pizza umumnya. Akan tetapi speciality sehingga ada sensasi lain. Bahan-bahannya mayoritas impor termasuk bahan utamanya, keju, yang didatangkan langsung dari New Zaeland.

Kelebihan pizza goreng Indo Saji juga bisa dibeli mentah dan digoreng di rumah sebagai camilan sore hari. Jika ingin awet hingga lima bulan, pizza goreng ditaruh di freezer (frozen) dengan suhu kurang lebih 8°celcius. Jika ditaruh di chiller hanya bertahan lima hari.

“Jadi pizza goreng ini cocok bagi keluarga muda, ibu-ibu muda dan anak-anak-anak usia 4-12 tahun yang tinggal di perkotaan yang butuh makanan cepat saji,” ujar CEO Indo Saji, Christandy Halim, di sela grand launching otlet Pizza Goreng Indo Saji di Jalan Pajajaran 20G, Kota Bogor, Sabtu (25/11/2017).

Pizza goreng ini sengaja dibuat dalam bentuk bulat kecil tidak seperti pizza umumnya. Menurut Christandy, keju yang ditaruh di dalam lebih aman dari sirkulasi udara dan tahan lama. “Kalau digoreng sendiri di rumah juga ada caranya. Minyak gorengnya harus banyak sekitar 3 cm. Pizza baru dimasukan kalau suhu minyak sudah 150°c,” ujarnya.

Pizza goreng ini dibanderol Rp55 ribu sampai Rp60 ribu dan tersedia dalam 9 varian; smoked beef, double cheese, spicy chicken, special chicken, special tuna, chicken, sausage, mushroom, dan patty burger.

Pizza goreng Indo Saji kini juga sudah hadir di 164 pasar modern dan bisa dipesan via media sosial serta shopping online.

“Awalnya saya membuka usaha rumahan di Jalan Baru, Kota Bogor, dengan tenaga tiga orang, tahun 2014. Saya berupaya memasarkan dengan jalan konsinyasi. Tapi susah. Saya terus merangkak. Usaha mulai berkembang setelah memasarkan melalui media sosial dan berkembang di Jakarta. Karena Bogor juga potensi bisnis kulinernya juga besar, saya balik lagi ke Bogor. Jumlah karyawan sekarang sudah 44 orang dan omzet miliar,” ungkapnya. (rin)